SOBAT MINISTRY

Petikan ayat hari ini

Kamis, 18 Januari 2018
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. I Yohanes 4:7,8

Kesaksian

ITU ANAKKU ... ITU ANAKKU !

09 October 2009

Kesaksian ini ditulis oleh Sdr. Yahuda

KorbanGempa.jpgSuasana di jalan Proklamasi, Tarandam, Padang, hingga malam masih mencekam. Ribuan korban yang tertimbun bangunan yang roboh akibat gempa Rabu sore, sampai Kamis malam, belum bisa dievakuasi. Termasuk puluhan pelajar di bimbingan belajar Gamma di jl. Proklamasi, Tarandam, Padang.

Suasana pencarian jenazah para pelajar yang mengikuti les privat sangat memilukan. Puluhan orangtua menunggu proses evakuasi yang lamban di tengah hujan deras. Satu per satu mayat diangkat, dan langsung disambut jerit histeris.

“Itu anakku, itu anakku,” ujar Richard, Kepala Bidang Humas Pemko Padang, saat menyaksikan tim penyelamat mengeluarkan sesosok jasad dari balik reruntuhan, Kamis (1/10) siang. Sambil menenteng kamera untuk dokumentasi Pemko Padang, wajah lelaki yang biasanya riang itu kemarin tampak sangat cemas dengan mata yang merah.

Begitu melihat wajah anaknya yang memutih di balik kantong mayat, ia langsung berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Beberapa wartawan mencoba menenangkan lelaki itu agar sabar. Begitu juga istri Richard tak dapat menguasai diri. Dia langsung meraung, menangis histeris ketika anak lelaki mereka ditemukan.

Richard dan istrinya berupaya memeluk putranya, namun dilarang petugas yang menyarankan melihat di RSUP M Jamil Padang. Tubuh kaku berselimut debu reruntuhan itu langsung masuk ambulans.

Tim evakuasi terus berupaya menyelamatkan korban satu per satu. Sebanyak 19 orang sudah dinyatakan tidak bernyawa, namun, para orangtua masih berharap anak-anak mereka diselamatkan. Ada 60 pelajar yang sedang mengikuti les ketika gempa dahsyat terjadi.

Menurut pengakuan Nola, orangtua korban, Rabu malam, sejumah anak-anak berteriak kelaparan dan kehausan dan merintih kesakitan. “Saya berteriak memanggil anak saya dan meminta petugas memberikan roti,” kata Nola. Ia juga melihat beberapa anak saling berpelukan, namun sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. “Itu siswa yang bisa dijangkau, masih banyak lagi yang tidak bisa,” katanya dengan wajah cemas.

Gedung dua lantai itu amblas pada saat gempa 7,6 skala Richter mengguncang, Rabu sore. Menurut informasi, ketika gempa terjadi, sebagian siswa berlari ke lantai atas, sebagian lagi lari keluar gedung. Mereka terjebak di tangga dan di pintu sehingga terperangkap dalam reruntuhan.

Hingga berita ini diturunkan, baru tujuh siswa yang berhasil diselamatkan, sementara 19 lainnya tewas mengenaskan. Umumnya mereka menderita patah tulang dan luka tertimpa beton.

Suasana evakuasi sangat memilukan. Ada orangtua yang tetap bertahan menunggu di depan gedung. Tetapi ada juga yang mencari informasi di RS M Jamil Padang. Seperti Emilda (39), warga Palinggam, terus mencari Lila Yolanda (12), pelajar MTSN modern Gunung Panggilun. Ia kemudian memilih menunggu di RS M Jamil Padang karena seluruh korban tewas dan meninggal dibawa ke sana. Setiap ada korban, ia periksa satu per satu. Sampai penantian mereka berakhir, Kamis siang.

Emilda langsung berteriak ketika melihat sang putri sudah dibawa dengan kantong mayat. Suami istri itu pun menangis berpelukan. “Lila... Lila... Bangun, Nak...,” kata sang ayah menjerit. Istri, sambil menangis berusaha menenangkan suaminya, “Bang, sabar Bang... Tuhan sayang sama Lila. Anak hanya titipan Tuhan, biarlah diambil kembali,” ujar Emilda.

Suasana di RS M Jamil mencekam sepanjang hari karena ambulans
datang silih berganti, membawa mayat atau korban luka. Tim dokter dan perawat bekerja tanpa lelah di lorong-lorong rumah sakit dan teras karena bagian dalam RS terbesar di Sumbar itu juga hancur dan memakan 25 korban.

Proses evakuasi terhadap korban tertimbun di beberapa reruntuhan gedung terasa sangat lambat karena terbatasnya jumlah alat berat. Korban terbanyak adalah di Bimbel Gamma dan Hotel Ambacang yang menimbun sekitar 200 orang serta hotel bintang empat di sebelahnya, Bumiminang. Gedung berlantai delapan itu ambruk sebagian, bentuk hotel sudah miring dan bergeser dari pondasinya.

Sahabat, terkadang kita dibuat tidak mengerti dengan kesukaran dan kemalangan yang kita hadapi. Seringkali kita juga tidak menjumpai-Nya meski telah berseru minta tolong dalam doa-doa kita. Namun, percayalah bahwa dibalik semua kesukaran tersebut ada rencana Tuhan yang baik yang tidak pernah muncul dalam pemikiran kita yang terbatas ini. Dia merancang sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita pikirkan. Tetaplah bersandar dan berharap pada Tuhan. 

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun  pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang. Atau kuasa-kuasa, baik yang diatas, maupun yang dibawah, ataupun suatu mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada didalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 8:38,39



Kesaksian Lainnya

Selengkapnya..


Kirim komentar