SOBAT MINISTRY

Petikan ayat hari ini

Minggu, 22 Oktober 2017
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. I Yohanes 4:7,8

Kesaksian

GEMBALA HARUS TAHU KEBUTUHAN UTAMA DOMBANYA

22 April 2010

1904201095939img_1.jpgOleh: Manati I. Zega

 

Sejak 1979, kala itu masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD), Pdt. Dr. Daniel Prajogo sudah mulai melayani Tuhan. Namun, tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta. Faktanya kini, selain menjadi dosen di Monash University Australia, ia pula menjadi gembala jemaat di Bethany International Church (BIC), Melbourne. Bagaimana hal itu terjadi? Berikut hasil wawancara tim Bahana, Ev. J.H. Gondowijoyo, Hariyono, Manati I. Zega, dan Abednego Afriadi.

 

DUA BELAS TAHUN SILAM
Sekitar dua belas tahun lalu, saya datang ke Australia. Saya ke sana tentu bersama keluarga. Terus terang, saya mengakui semua itu hanya anugerah Tuhan saja. Awalnya, saya mendapatkan beasiswa dari Monash University. Sesungguhnya beasiswa itu hanya untuk satu orang. Padahal, saya sudah punya istri dan anak. Dalam kondisi seperti itu, kami sekeluarga berharap pada anugerah Tuhan. Kami senantiasa mengandalkan-Nya dengan serius. Pengharapan kami tidak sia-sia. Tuhan memberkati keluarga kami dari sumber-sumber lain. Sumber-sumber yang tak kami prediksi sebelumnya. Dengan cara-Nya yang unik, Dia memelihara kami. Kami tidak pernah puasa terpaksa. Kalau kami puasa, sungguh-sungguh karena kami benar-benar mau berpuasa. Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga. Itulah yang kami alami di negeri orang.

 

DIGIRING KE LADANG PELAYANAN
Di atas telah saya katakan, sejak Sekolah Dasar (SD), saya sudah mulai melayani Tuhan. Nilai-nilai itu melekat kuat dalam diri. Bahkan, bisa dikatakan telah mendarah daging. Pula, semangat melayani terbawa hingga ke Negeri Kanguru. Lalu, bagaimana pimpinan Tuhan dalam pelayanan di Melbourne? Begini ceritanya. Di Australia, ada sebuah gereja yang selama lima tahun belum punya gembala tetap. Telah beberapa kali dari Indonesia dikirimkan gembala, namun karena satu dan lain hal, akhirnya harus meninggalkan Australia. Misalnya, mereka tak mendapatkan visa, dan lain sebagainya. Waktu itu, Pdt. Ir. Johan Handoyo sebagai pendeta senior berkonsultasi dengan Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo di Jakarta. Hasil dari konsultasi tersebut, mereka meminta saya untuk melayani sebagai gembala. Nah, karena beban pelayanan yang tinggi, saya pun menyatakan bersedia melayani. Maka, sejak Juni 2003 hingga sekarang, Tuhan mempercayakan saya melayani sebagai gembala jemaat.

Tentu, suka duka menjadi gembala banyak. Namun, saya lebih banyak menikmati sukanya. Walaupun hingga sekarang saya belum punya kesempatan untuk studi teologi formal, namun dengan segala kemampuan yang Tuhan berikan, saya mendalami firman Tuhan itu sungguh-sungguh. Tentu saja berbagai alat bantu seperti buku-buku teologi dan buku-buku tafsir saya pakai semuanya. Yang terpenting di atas segalanya itu, saya bersandar penuh pada firman-Nya.

Oleh anugerah-Nya, hingga kini saya gembalakan kurang lebih 600 orang jemaat. Dari yang saya pelajari dengan jumlah jemaat sekian, seharusnya fulltimer-nya lebih dari satu. Mungkin, sekitar lima sampai enam orang fulltimer. Namun, oleh anugerah Tuhan, kami memiliki hanya satu orang fulltimer, lainnya pelayan sukarela. Dalam pelayanan ini, ratusan orang telah dibaptiskan. Setelah melihat data, saya tersentak, ternyata yang dibaptis kebanyakan mereka adalah orang Kristen pertama dalam keluarga mereka. Awalnya, mereka non-Kristen. Tuhan izinkan saya membawa mereka kepada Kristus, sang Juruselamat.

 

UANG BUKAN MASALAH
Saya harus katakan bahwa jemaat yang dilayani di Melbourne adalah orang-orang yang sangat mampu. Kalau para mahasiswa bisa sampai di sana, hampir bisa dipastikan mereka tidak berasal dari keluarga yang bermasalah

secara finansial. Jelas mereka berasal dari keluarga berada. Implikasi dari kondisi ini, dalam pelayanan saya harus memberikan sesuatu yang lain dalam penggembalaan dan khotbah-khotbah. Sudah pasti, bila saya membicarakan tentang Tuhan yang memberkati, pasti mereka sudah mendapatkannya. Uang bukan masalah bagi mereka. Mereka punya banyak uang. Kalau fokus khotbah saya hanya seputar materi saja, mereka akan berpikir, buat apa ke gereja. Toh semua itu sudah didapatkan. Tanpa ke gereja pun mereka sudah memiliki uang.

Di sinilah peran gembala. Sebagai gembala, saya harus memberikan sesuatu yang lain bagi jemaat yang homogen ini. Saya harus menyampaikan makanan rohani yang menjawab kebutuhan mereka. Saya teringat pada pernyataan seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan itu berkata, “Jangan sia-siakan mimbarmu. Berikan apa yang orang tidak pernah dapatkan di luar gereja, yakni Injil Tuhan.” Itulah yang saya lakukan. Setiap saat saya bergelut dengan firman. Saya minta Tuhan memberikan firman yang tepat, yang mampu menjawab persoalan umat. Dengan belajar keras, dan bergantung pada Roh Kudus, beberapa orang mengatakan, “Setelah kembali ke Indonesia, kami belum dapat makanan rohani seperti di Australia.” Ini tidak bermaksud memegahkan atau menyombongkan diri. Saya hanya bermaksud menyampaikan metode pelayanan seperti itulah yang kami lakukan di Australia.

 

ANTARA KAMPUS DAN GEREJA
Banyak teman-teman hamba Tuhan bertanya, “Bagaimana kamu dapat melakukan semua itu?”.
Saya juga tidak tahu bagaimana dapat melakukan semuanya. Memang saya adalah dosen di Monash University. Saya juga sebagai pendeta di Bethany International Church Melbourne, Australia. Secara akal, mungkin sukar membagi waktu. Namun, Tuhan menolong sehingga semuanya berjalan dengan baik. Makanya ketika ada orang yang menanyakan, saya selalu menjawab dengan bahasa klise, “Bukan saya yang melakukannya, tetapi Tuhan.”

Melayani memang tidak boleh dilakukan sendiri. Itu saya terapkan dalam jemaat yang saya gembalakan. Di Bethany International Church, ada tim pelayanan. Bagi saya, gereja tidak boleh tergantung pada satu orang. Bukan modelnya lagi pelayanan tergantung pada satu pribadi. Pelayanan model begini, suatu saat akan bermasalah. Gembala akan kelelahan sendiri. Karena itulah harus punya tim pelayanan yang solid.

 

CARI TUHAN SUNGGUH-SUNGGUH
Saya mendorong setiap orang Kristen, agar kita sungguh-sungguh mencari dalam firman Tuhan kebenaran yang sesungguhnya. Bagi saya, ini kunci dari semuanya. Pengalaman hidup dan pelayanan saya di Melbourne membuktikan hal ini. Di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau sudah tahu bahwa hanya di dalam Tuhan kita dapat menemukan semuanya, mengapa kita tidak berpaut saja kepada-Nya?

Saya mengumpamakan, kalau ada seorang pejabat besar berkata, ”Jangan khawatir, kalau ada apa-apa beritahukan saya.” Saya berani jamin kita hidup tanpa kekhawatiran. Padahal, yang ngomong itu hanyalah seorang pejabat. Maaf, mungkin perkataannya itu bisa meleset. Ia tidak menepati janji. Namun, kita sudah merasa tidak khawatir akibat janjinya itu. Bukankah kita seharusnya lebih percaya kepada Tuhan dan firman- Nya? Secara pribadi, saya memilih menaati firman Tuhan daripada janji orang terhebat mana pun. Tidak bermaksud merendahkan orang lain yang berjanji. Namun, saya berkeyakinan manusia bisa tidak setia dengan janjinya. Berbeda dengan Tuhan. Firman-Nya dapat dijadikan pegangan untuk selama-lamanya. Tuhan adalah kebutuhan kita yang utama.

 

Sumber: Majalah Bahana, April 2010



Kesaksian Lainnya

Selengkapnya..


Kirim komentar